Sabtu, 16 Juni 2012

PROPOSAL SKRIPSI KUALITATIF

 
PROPOSAL SKRIPSI
FAKTOR-FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA/MAHASISWI SEMESTER SATU MEMILIH KULIAH DI SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA (STIAB) SMARATUNGGA BOYOLALI
TAHUN AKADEMIK 2010/2011


oleh : Sunaryo
Nim : 0914.1008


PROGRAM STUDI DHARMA ĀCĀRYA
SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA (STIAB)
“SMARATUNGGA”
BOYOLALI



A.    Judul
FAKTOR-FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA/MAHASISWI SEMESTER SATU MEMILIH KULIAH DI SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA (STIAB) SMARATUNGGA BOYOLALI TAHUN AKADEMIK 2010/2011.

B.     Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya individu setelah lulus dari SMA, SMEA, SMK dan jenjang sederajat lainnya yang berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Individu yang akan memilih melanjutkan ke perguruan tinggi dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam memilih perguruan tinggi baik berupa faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal dan faktor eksternal menjadi pemikiran ulang individu dalam memilih perguruan tinggi dengan pertimbangan bahwa betapa besar dan tingginya biaya hidup dan betapa kecilnya penghasilan individu yang baru selesai sekolah oleh karena itu timbul pemikiran dan berusaha menyikapi masalah pendidikan dan karier dengan sikap yang lebih praktis dan lebih realistis.
Faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi individu dalam memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha berasumsi dengan pertimbangan pada pekerjaan yang dicita-cita. Pemilihan di perguruan tinggi agama Buddha dilakukan karena berorientasi pada masa depan yang menjadi pemikiran untuk memilih kuliah dengan pekerjaan yang dicita-citakan.
Faktor internal adalah faktor yang muncul dalam diri sendiri, merupakan salah satu faktor yang menentukan individu dalam memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha. Faktor internal yang berasal dari dalam dirinya meliputi faktor kemauan, kepercayaan, minat dan karier.
Faktor-faktor internal memberikan pengaruh yang besar pada individu pada pemilihan perguruan tinggi agama Buddha, dengan kemauan yang kuat dan minat pada pendidikan individu memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha yang disertai kepercayaan bahwa dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agama Buddha dapat menghantarkan ke masa depan (karier) yang lebih baik. Disamping faktor internal terdapat faktor eksternal yang mempengaruhi individu dalam memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha.
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang tumbuh, muncul, berkembang karena pengaruh dari luar diri individu. Individu yang memutuskan mengambilan keputusan dalam pemilihan kuliah di perguruan tinggi agama Buddha dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari luar diri individu.
Faktor eksternal pertama yang mempengaruhi adalah berasal dari keluarga, khususnya orang tua mempunyai kontribusi yang besar dalam mempengaruhi individu memilih kuliah ke perguruan tinggi agama Buddha. Pengarahan orang tua memegang peranan yang penting pada saat individu menunjukkan minat tertentu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agama Buddha, seperti yang terdapat dalam Sigalovada-sutta Buddha menunjukkan beberapa tanggung jawab orangtua dalam mendidikan anaknya antara lain yaitu: “Mengajarkan berbagai pengetahuan serta keterampilan”.
Faktor yang kedua adalah keadaan ekonomi keluarga memberikan pengaruh bagi individu dalam memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha. Keadaan Ekonomi keluarga menjadi pertimbangan individu saat memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha. Selain faktor dari orang tua dan faktor ekonomi keluarga terdapat faktor lain yang mempengaruhi individu saat memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha seperti kehadiran figur-figur disekitar individu mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam membantu individu memutuskan memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha.
Kehadiran figur seperti: saudara kandung (kakak), tetangga, dan teman memberikan peran pada individu saat memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha. Individu yang memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha sebagian besar mengikuti jejak para pendahulunya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendukung pada saat individu hendak memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha.
Berdasarkan fenomena dengan berbagai faktor internal maupun faktor eksternal yang mempengaruhi individu memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha. Peneliti berusaha untuk mengupas secara mendalam mengenai permasalahan berupa faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi individu memilih kuliah di perguruan tinggi agama Buddha, yang tidak hanya memandang dari suatu gejala yang tampak akan tetapi berusaha mengali makna di balik gejala itu.
Peneliti dalam penelitian ini mengunakan metode kualitatif  dengan pendekatan fenomenologi. Menurut Bogdan dan Taylor ( Sukidin, 2002: 32) fenomenologi harus menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan pengamatan partisipan, wawancara intensif (agar mampu menyibak orientasi subjek atau dunia kehidupannya).
Berdasarkan permasalah dan metode yang digunakan dalam penelitian ini peneliti berupaya untuk mendeskripsikan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali tahun akademik 2010/2011.

C.    Fokus Penelitian
Adapun permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah:
1.      Faktor internal apakah yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga?
2.      Faktor eksternal apakah yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga?
3.      Bagaimanakah hubungan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga?

D.    Tujuan Penelitian
1.      Menjelaskan faktor internal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga?
2.      Menjelaskan faktor eksternal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga?
3.      Mendeskripsikan hubungan faktor internal dan faktor ekstrenal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga?

E.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoretis
a.       Bagi pihak lembaga khususnya kampus STIAB Smaratungga, adalah dengan penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi dalam memilih kuliah, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk menambah kualitas dan daya tampung STIAB Smaratungga.
b.      Bagi mahasiswa khususnya mahasisa STIAB Smaratungga, yakni dapat dijadikan sebagai bahan masukan penting dalam memilih kuliah.
2.      Manfaat Praktis
a.       Memberikan masukan pada dunia pendidikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi memilih kuliah di STIAB.
b.      Memberikan masukan pada lembaga, khususnya STIAB Smaratungga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi memilih kuliah di STIAB Smaratungga.

F.     Landasan Teori
1.      Sekilas Tentang STIAB Smaratungga
Berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha berawal dari permasalahan yang dihadapi oleh Dharmaduta Vihara Mahabodhi Semarang, pada saat itu mengalami kesulitan dalam pembinaan umat Buddha di Wilayah Jawa Tengah. Untuk mengantisipasi keterbatasan yang ada pengurus Vihara mengadakan pelatihan Dharmaduta, namun usaha tersebut mengalami hambatan.
Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan akan dharmaduta, beberapa tokoh umat Buddha Vihara Maha Bodhi bersama dengan Majelis Buddhayana Propinsi Jawa Tengah mengambil inisiatif untuk mendirikan Perguruan Agama Buddha yaitu Pendidikan Guru Agama Buddha “Smaratungga” di Ampel Boyolali. Kemudian dibentuklah Yayasan Sariputra Sadono sebagai badan pengelola Pendidikan Guru Agama Buddha (PGAB). Nama tersebut diambil dari nama tokoh agama Buddha di Jawa Tengah yaitu Romo Sariputra Sadono almarhum.
Pada mulanya kegiatan pembelajaran diselenggarakan dirumah penduduk Dukuh Ngelo Desa Kaligentong, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali selama tiga tahun. Sesuai dengan tuntutan perkembangan globalisasi, dan laju perkembangan masyarakat, serta perkembangan teknologi yang semakin maju, maka pada saat ini Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga telah telah memiliki gedung yang representative dan memadai meliputi gedung perkuliahan dan perkantoran, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, laboratorium microteaching, laboratorium multimedia pendidikan, laboratorium rohani dan laboratorium sekolah serta dilengkapi dengan auditorium, ruang pertemuan dan seminar, perpustakaan, hot spot area, internet center.
Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga berpedoman pada esensi dasar ajaran Buddha dan bertanggungjawab untuk berperan serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk menghasilkan tenaga pendidikan buddhis yang cerdas, pluralis, universal, dan konstektual sesuai dengan perkembangan iptek dan globalisasi.
Dalam mewujudkan akuntabilitas publik Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga membangun sistem penjaminan mutu secara internal dan eksternal dengan ditandai jurusan Dharma Achariya sebagai satu-satunya jurusan di perguruan tinggi buddhis yang terakreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.
Untuk meningkatkan mutu pedidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga telah melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Kompetensi lulusan untuk dapat bersaing dalam dunia global mahasiswa dibekali paket kompetensi profesional dalam komputer dan bahasa inggris.
Bagi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga yang mempunyai prospek yang baik dan kesempatan bekerja yang luas diberbagai instansi pemerintahan swasta maupun negeri sebagai guru pendidikan agama Buddha, Tenaga Penyuluh, Tenaga Struktural di Kanwil Depag, Dharmaduta.
2.      Faktor-Faktor Internal Dan Eksternal Yang Mempengaruhi Mahasiswa/Mahasiswi Semester Satu Memilih Kuliah Di STIAB Smaratungga Tahun Akademik 2010/2011
a.       Faktor internal
Setiap individu memiliki kondisi internal, dimana kondisi internal mempunyai peranan dalam aktivitas kehidupannya. Faktor internal adalah faktor yang muncul dalam diri sendiri. Faktor yang berasal dalam diri sendiri merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan individu dalam memenuhi kebutuahan-kebutuhannya.
Hakikat manusia sebagai mahkluk yang sempurna mempunyai ciri-ciri karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan yang dimiliki individu terhadap dirinya disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: kemampuan menyadari, kemampuan ber-eksistensi, kemampuan terhadap kepemilikan hati, kemampuan pandangan terhadap moral, kemampuan bertanggung jawab, memiliki rasa kebebasan, kesediaan melaksanakan hak dan kewajibannya, serta kemampuan memperoleh kebahagian hidup. Untuk memperoleh hal-hal tersebut diatas banyak faktor yang mempengaruhinya. Demikian pula faktor yang tumbuh dalam diri individu sebelum memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga, diantaranya:
1)      Kemauan
Kemauanlah yang membuat orang besar atau kecil. Kemauan erat kaitannya dengan tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan. Kemauan ini memegang peranan yang penting di dalam belajar. Adanya kemauan dapat mendorong belajar dan sebaliknya tidak adanya kemauan dapat memperlemah belajar (Mustaqim dan drs. Abdul wahid, 1991: 64) (Psikologi Pendidikan. Jakarta, PT Rineka Cipta).
Menurut Richard Dewey dan W.J Humber, kemauan merupakan: (1) hasil keinginan untuk mencapai tujuan tertentu yang begitu kuat sehingga mendorong orang untuk mengorbankan nilai-nilai yang lain, yang tidak sesuai dengan pencapaian tujuan; (2) berdasarkan pengetahuan tentang, cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan; (3) dipengaruhi oleh kecerdasan dan energi yang diperlukan untuk mencapai tujuan; (4) pengeluaran energi yang sebenarnya dengan satu cara yang tepat untuk mencapai tujuan ( Rakhmat, 2005: 43).
Kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu yang didasari pengetahuan dan kecerdasan sehingga mendorong individu untuk memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali tahun akademik 2010/2011.
2)      Kepercayaan (optimis)
Kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap objek yang dipilih. Menurut Solomon E. (dalam Rakhmat, 2005:42), kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan.
Kepercayaan muncul dalam diri individu  lantaran individu telah memiliki  jumlah informasi yang dimiliki tentang STIAB Smaratungga bahwa di STIAB Smaratungga tidak terdapat penyaringan calon mahasiswa/mahasiswi maka dari itu individu mengemukakan dengan penuh kepercayaan bahwa akan diterima di STIAB Smaratungga. Hal ini menjadi pendorong individu untuk memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga.
3)      Minat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan (Depdiknas, 2001: 744). Sedangkan menurut Hilgard (dalam Djamari, 2000: 35), minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang.
Minat individu pada pekerjaan sangat mempengaruhi besarnya minat individu terhadap pendidikan, bagi individu pendidikan dianggap sebagai batu loncatan untuk meraih pekerjaan (Al-mighwar, 2006: 104). Minat  yang di sertai rasa senang terhadap pendidikan dan pekerjaan yang dicita-citakan menjadi salah satu faktor pendorong individu memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga.
Jadi jika individu memilih kuliah sesuai dengan minat, maka dapat membawa hasil yang lebih baik pada karier atau masa depan karena dengan adanya minat untuk melanjutkan kependidikan perguruan tinggi diharapkan nantinya dapat menjadi batu loncatan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik dari sebelumnya. Femomena  inilah  yang menjadi proses penentuan dalam memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali.
4)      Karier (masa depan)
Karier adalah pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju dalam kehidupan (Depdiknas, 2001: 508). Keinginan pada karier sering menjadi sumber pikiran pada diri individu. Hal ini diperkuat oleh pendapat Thomas (dalam Al-mighwar, 2006: 106) bahwa “pada saat tertentu, individu belajar membedakan antara pilihan pekerjaan yang disukai dan pekerjaan yang dicita-citakan. Cara memperolah pekerjaan yang dicita-citakan sering menjadi pemikiran individu, selain itu individu mulai menyadari betapa besar dan tingginya biaya hidup dan betapa kecilnya penghasilan seseorang yang baru selesai sekolah. Oleh sebab itu individu berusaha menyikapi masalah karier dengan sikap yang lebih praktis dan lebih realistis.
Individu yang telah memasuki usia remaja akhir, mengemukan bahwa memilih kuliah di STIAB Smaratungga karena berorientasi pada masa depan atau karier dengan harapan dengan masuk kuliah di STIAB Smaratungga nantinya dapat menghantarkannya ke karier yang lebih baik.
b.      Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang tumbuh, muncul, berkembang karena pengaruh dari luar diri individu. Individu yang memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari luar diri individu, diatarannya:
1)      Keluarga
Pola asuh orang tua merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, menunjukkan otoritasnya, dan memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya (Tarmudji, 2011: 4).
Salah satu peran orang tua adalah menjadi guru yang mendidik dan mengajar anaknya. Dalam keluarga dengan penuh cinta kasih orang tua mendidik anaknya agar menghindari kejahatan dan menimbun kebaikkan. Anak yang mendapat pendidikan yang baik akan berbakti dengan menunjang orang tuanya (Mukti, 2006: 321).
Orang tua mempunyai peranan yang penting dalam mendidikan anak, karena orang tua khususnya dalam keluarga merupakan wahana sosialisasi yang meletakkan pembentukkan watak, kepribadian anak dan memberikan pendorong bagi individu dalam menentukan mengambil keputusan untuk melanjutkan  kependidikan yang lebih tinggi khususnya di STIAB Smaratungga.
2)      Figur
Kehadiran figur-figur disekitar kehidupan individu mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam membantu individu memutuskan memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Individu mengemukakan bahwa kehadiran figur tertentu memberikan pengaruh yang  besar terhadap dirinya yang akan melanjutkan kuliah di STIAB Smaratungga, seperti sabda Buddha:
Barang siapa mengikuti kawan-kawan yang jahat, segera akan mengalami kehancuran. Barang siapa bermitra dengan mereka yang sepadan, tidak akan gagal. Barang siapa berpihak kepada orang-orang yang arif bijaksana segera akan mencapai kemajuan” (A. I, 125).
Buddha sangat menekankan pentingnya pergaulan yang baik, sabdanya, “Aku tidak melihat ada satu faktor lain yang sangat menolong seperti persahabatan dengan orang yang baik (kalyana-mitta). Para bhikkhu, seorang sahabat yang baik menyingkirkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan membuat hal-hal yang bermanfaat berkembang” (It.10).
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari individu dapat disimpulkan bahwa kehadiran figur-figur seperti: kakak, tetangga dan sahabat, disekitar kehidupan individu mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam membantu individu memilih melanjutkan kuliah di STIAB Smartungga.
3)      Ekonomi
Membicrakan tentang ekonomi tidak terlepas dari aspek kekayaan (Mulyono, 2009: 579). Keadaan ekonomi keluarga bukan merupakan faktor eksternal utama dalam memberikan kontribusi besar bagi individu memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga. Namun hal ini tidak bisa di pungkiri bahwa ekonomi mempunyai peran dalam diri individu untuk memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis dapatkan, individu yang memutuskan memilih kuliah di STIAB Smaratungga berasal dari ekonomi keluarga kelas menengah ke bawah.
Informasi yang diperoleh dari individu cukup memberikan informasi yang kuat dalam pemilihan tempat perkuliahan khususnya di STIAB Smaratungga. Individu memaparkan bahwa dengan keadaan ekonomi keluarga yang berkecukupan menjadi pemikiran ulang individu untuk memilih kuliah. Dengan keadaan ekonomi keluarga yang memadai dapat mendukung individu (seorang anak) yang hendak melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Karena dengan belajar akan memberi manfaat yang besar bagi perkembangan batin seseorang.
4)      Sarana atau Prasarana Pendidikan
Pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik (UU Sisdiknas, 2003: 3).
Menurut Umar Suwito (dalam Suryosubroto, 2004: 115) media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar-mengajar, untuk lebih memperhatikan efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan.
Sarana dan prasarana yang dimiliki STIAB Smaratungga sangat mendukung dalam proses belajar-mengajar, sehingga hal ini menjadi faktor pendukung individu memilih kuliah di STIAB Smaratungga walaupun tidak memberikan pengaruh yang cukup besar.
5)      Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran dan pelatihan yang berada diluar program yang tertulis di dalam kurikulum, seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa. Dalam hal ini STIAB Smaratungga memiliki serangkaian kegiatan ekstrakurikuler yaitu teater, seni tari, olaraga dan lain-lain.
Ekstrakurikuler STIAB Smaratungga cukup memberikan pengaruh untuk menarik  individu melanjutkan ke STIAB Smaratungga. Pada sekitar bulan Mei 2010 STIAB Smaratungga telah mengirimkan duta besar ke Thailand lewat seni tari dan juga mengirim duta besar ke Singapura lewat seni teater, sehingga hal ini membawa nama harum STIAB Smaratungga dan sekaligus mengundang minat individu untuk melanjutkan ke STIAB Smaratungga. Individu cukup bangga dengan STIAB Smaratungga karena ternyata STIAB Smaratungga memiliki hubungan yang luas dengan mancanegara.
6)      Akreditasi
Sekolah Tinggi Agama Buddha yang ada di Indonesia baru satu yang terakreditasi yaitu STIAB Smaratungga. “Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan (BHP, 2009: 76)”. Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Keberadaan STIAB Smaratungga yang telah terakreditasi, diharapkan oleh individu dapat memberikan peluang pekerjaan yang cukup besar dibandingkan dengan lulus-lulus mahasiswa/mahasiswi kampus lain karena mengingat STIAB Smaratungga yang baru terakreditasi. Individu (remaja akhir) menganggap pendidikan tinggi sebagai batu loncatan untuk meraih pekerjaan. Pada dasarnya individu menaruh minat pada pendidikan karena diharapkan dengan kuliah di STIAB Smaratungga nantinya akan dapat bermanfaat dalam bidang pekerjaan atau kariernya.
3.      Pengambilan Keputusan Memilih Kuliah Di STIAB Smaratungga
Pengambilan keputusan yang diambil individu adalah merupakan suatu proses yang melalui serangkaian tahap-tahap aktivitas yang menghasilkan suatu keputusan. Pengambilan keputusan merupakan sarana atau alat untuk mencapai hasil tertentu atau untuk memecahkan masalah. Jadi keputusan sendiri bukanlah suatu tujuan yang ingin diperolehnya melainkan hanyalah sarana mencapai tujuan. Keputusan yang dibuat oleh setiap individu berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan perbedaan kondisi dan situasi yang dihadapi.
Pengambilan keputusan adalah proses penentuan pilihan. Secara alami, manusia akan diperhadapkan kepada berbagai pilihan dan secara alami juga manusia dilatih mengambil keputusan dari pilihan-pilihan hidup yang dialaminya. Oleh karena itu sesungguhnya manusia akan terus menerus menentukan pilihan hidup dari waktu ke waktu sampai akhir kehidupannya. Proses inilah yang disebut dengan pengambilan keputusan.
Jadi esensi dari sebuah pengambilan keputusan ada proses penentuan pililihan. Hanya setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya dalam mengambil keputusan. Hal ini disebabkan kemampuan, strategi, pemilihan dan tahapan-tahapan yang diperoleh serta dipunyai oleh manusia berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Nilai yang mendasari pemilihan pengambilan keputusan oleh individu merupakan salah satu faktor kepuasan suatu perjalan hidup manusia. Nilai dalam pengambilan keputusan merupakan seperangkap prinsip tentang benar-salah, baik-buruk, penting-tidak penting, dan lainnya berdasarkan nilai-nilai keagamaan, sosial, moral, etikan dan lainnya.
Kesimpulan dari pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan sesuai dengan kebiasaan, aturan, atau prosedur yang berhubungan dengan masalah baru, suatu yang perlu mendapatkan penanganan dan pemecahan masalah, yang dihadapkan kepada berbagai pilihan-pilihan dalam hidupnya untu memperoleh penghargaan terhadap keyakinannya, nilai-nilai yang diyakininya, kegiatan sesuai dengan nilai yang diyakini, aktivitas cita-cita sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini secara terpola, konsisten, dan berulang-ulang dalam memperoleh kepuasan dalam perkuliahan.
Pengambilan keputusan memilih kuliah di stiab smaratungga dikarena individu dengan belajar dapat dapat menghasilkan perubahan-perubahan.

G.    Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan jenis penelitian
Penelitian ini, mengunakan metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2008: 4) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu keutuhan.
Selain itu, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya (Moleong, 2008: 4). Menurut Williams (dalam Moleong, 2008:5), penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah. Dengan demikian, hal tersebut memberikan gambaran bahwa penelitian kualitatif mengutamakan latar alamiah, metode alamiah, dan dilakukan oleh orang yang mempunyai perhatian alamiah.
Denzin dan Lincoln (dalam Moleong, 2008:5) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar belakang alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Biasanya metode yang digunakan adalah wawancara pengamatan, dan pemanfaatan dokumen.
Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa hal itu merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau sekelompok orang. Sebenarnya definisi tersebut hanya mempersoalkan satu metode yaitu wawancara terbuka, sedangkan yang penting dari definisi tersebut adalah upaya untuk memahami sikap, perasaan, pandangan, dan perilaku baik individu maupun sekelompok orang (Moleong, 2008:5).
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau kuantifikasi lainnya. Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan orang-orang yang diteliti yang rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik, dan rumit (Moleong, 2008:6 ).
Selain itu, Richie (dalam Moleong, 2008:6) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti.
Dari definisi-definisi yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena-fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
2.      Penentuan Lokasi
Lokasi penelitian adalah di STIAB Smaratungga Boyolali, yang terletak di desa kaligentong, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa/mahasiswi semester satu tahun akademik 2010/2011.
3.      Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian yang peneliti lakukan adalah:
a.       Penetapan tema penelitian;
b.      Menghimpun bahan-bahan referensi berupa: Tipitaka, buku-buku, dokumen, dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian;
c.       Mempertegas fokus penelitian dan bahan –bahan yang berhubungan dengan penelitian;
d.      Mengkaji, menyusun bahan bacaan dan membuat catatan penelitian;
e.       Pengumpulan data di lapangan;
f.       Analisis dan menginterpretasi data-data yang telah terkumpul;
g.      Menghubungkan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pengambilan keputusan memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali;
h.      Hasil akhir yang diharapkan adalah merumusakan faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi mahasiswa memilih kuliahdi STIAB Smaratungga.
4.      Subyek Penelitian
a.       Populasi Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih secara purposive sampling. Sampel sumber data pada tahap awal memasuki lapangan dipilih orang yang memiliki power dan otoritas pada situasi sosial atau obyek yang diteliti.
Penelitian ini tidak mengunakan istilah populasi, tetapi dinamakan situasi sosial “sosial situation” yang terdiri atas  tiga elemen yaitu: tempat, (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.
Selanjutnya di nyatakan bahwa, sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1)      Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayati
2)      Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti
3)      Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi
4)      Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil ”keemasannya” sendiri
5)      Mereka yang pada mulanya tergolong ”cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan narasumber.
Penelitian ini yang menjadi obyek penelitian yaitu meliputi tiga komponenen meliputi: 1) tempat (place) yaitu kampus STIAB Smaratungga, 2) pelaku (actor) yaitu  mahasiswa/mahasiswi, berumur 19-23 tahun, yang bertempat tinggal di Dukuh Ngelo, Desa Kaligentong Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali yang menjadi narasumber, 3) aktivitas (activities) yaitu kegiatan yang dilakukan oleh aktor yang sedang berlangsung.
5.      Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data-data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode:
a.       Observasi Partisipatif
Untuk mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali, maka peneliti menjadi observer dalam kehidupannya tersebut. Dimana hasil yang diperoleh di lapangan dapat menjadi masukan yang penting di dalam pembuatan laporan penelitian yang sebenarnya.
Subyek yang akan di amati adalah para mahasiswa/mahasiswi semester satu tahun akademik 2010/2011 yang sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar di STIAB Smaratungga. Selain daripada itu dalam kegiatan observasi ini peneliti dapat terlibat langsung dalam kehidupan mahasiswa sehingga diperoleh gambaran yang sebenarnya tentang faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi memilih kuliah di STIAB Smaratungga.
Patton mengungkapkan bahwa data observasi menjadi sangat penting karena:
1)      Peneliti akan mendapat pemahaman lebih baik dalam konteks hal yang diteliti ada atau terjadi.
2)      Observasi memungkinkan peneliti untuk bersifat terbuka, berorientasi pada penemuan daripada pembuktian dan mempertahankan pilihan untuk mendekati secara induktif.
3)      Observasi memungkinkan peneliti untuk melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.
4)      Observasi memungkinkan diperolehnya data yang benar karena berbagai sebab tidak diungkapkan lewat wawancara.
5)      Observasi memungkinkan peneliti bergerak lebih jauh dari persepsi selektif yang ditampilkan subjek penelitian atau pihak lain.
6)      Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan.
Penelitian ini, mengunakan metode observasi yang digunakan adalah observasi partisipapatif, dimana peneliti sambil melakukan pangamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, tetapi belum sepenuhnya lengakap. Adapun yang akan diobservasi dalam penelitian ini meliputi tempat perkuliahan, aktivitas subjek dan hubungan subyek dengan teman dalam suasana-suasana kegiatan belajar.
b.      Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Sugiyono, 2007: 72). Demi terciptanya tujuan yang telah ditetapkan dan diinginkan oleh peneliti akan melakukan beberapa kali pertemuan dalam kegiatan wawancara hingga di dapatkan data yang lengkap. Hal ini untuk memperoleh data di lapangan bahwa kegiatan penelitian ini dapat memperoleh hasil yang optimal.
Sedangkan jenis wawancara yang digunakan adalam penelitian ini adalah wawancara yang terstruktur, yaitu wawancara yang telah ditetapkan masalah dan pertanyaan-pertanyaannya yang akan diajukan kepada subyek atau sampel. Namun peneliti tidak menggunakan pedoman yang terstruktur ini sebagai bahan yang kaku, sehingga diharapkan untuk mengetahui lebih jauh dalam kegiatan penelitian ini. Pertanyaan-pertanyaan disusun berdasarkan masalah yang ada dalam desain penelitian (Moleong, 2008:138).
Wawancara yang dilakukan terhadap subjek penelitian, menggunakan materi wawancara yang telah disusun sebagai berikut:
1)      Jelaskan alasan anda memilih kuliah di STIAB “Smaratungga” padahal seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa banyak sekali PTAB-PTAB yang anda di Indonesia?
2)      Bagaimana anda mendapatkan dukungan dari orang tua dan keluarga anda, kalau anda akan kuliah di STIAB Smaratungga?
3)      Bagaimana anda mempertimbangkan antara cita,cita, minat dan bakat anda dengan memilih kuliah di STIAB Smaratungga?
4)      Jelaskan informasi apa saja yang anda peroleh tentang STIAB Smaratungga (lokasi, sarana dan prasarana dan lain-lani)?
5)      Bagaimana pertimbangan anda antara lokasi tempat anda kuliah (STIAB Smaratungga) dengan tempat tinggal anda?
6)      Jelaskan pertimbangan anda mengenai biaya perkuliahan, darimana nanti biaya dapat anda peroleh untuk kegiatan operasional selama anda kuliah?
7)      Jelaskan perasan anda sebelum diterima masuk ke STIAB Smaratungga?
8)      Bagaimana tanggapan anda mengenai STIAB Smaratungga setelah anda mengikuti perkuliahan yang telah berjalan satu semester?
9)      Apakah anda telah mempertimbangkan dengan matang antara anda memilih kuliah di STIAB Smaratungga dengan masa depan karir atau pekerjaan anda?
10)  Bagaimana langkah anda selanjutnya, apabila anda telah lulus dari STIAB Smaratungga?
6.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan setelah data diperoleh dari observasi dan wawancara, yang dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini Nasution (dalam Sugiyono, 2009: 336) menyatakan “Analisis dimulai sejak merumuskan masalah dan menjelaskan masalah, sebelum terjun terjun kelapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya samapijika mungkin, teori yang grounded” (Sugiyono, 2009: 336). Namun dalam penelitian ini, analisis data lebih difokuskan selama proses dilapangan bersama pengumpulan data.
Miles dan huberman (dalam sugiyono, 2009: 336), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Langkah-langkah analisis dengan menggunakan 3 komponen yang berperan penting yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Survei, merupakan proses awal dari penelitian untuk mengetahui lebih jelas gambaran kondisi penelitian sehingga ditemukan beberapa masalah yang mendukung untuk penentuan tema penelitian. Setelah survei dilakukan maka peneliti kemudian mencari teori-teori yang mendukung penelitian.
b.      Reduksi data, merupakan proses seleksi, pemfokusan, penye-derhanaan dan abstaksi data kasar yang didapat dari penelitian. Reduksi data dapat berupa membuat singkatan, koding, memusatkan tema, membuat batasan-batasan persoalan. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat hal-hal yang tidak penting dan mengatur data sehingga kesimpulan dapat dilakukan.
c.       Penyajian data, suatu rakitan informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dapat dilakukan. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif untuk penyajian data.
d.      Penarikan kesimpulan, dilakukan pada setiap data yang diperoleh di akhir masa pengumpulan data. Penarikan kesimpulan yang awalnya dijadikan pedoman, sementara untuk menelusuri gejala dan perbandingan dapat dilakukan untuk memperoleh kejelasan. Setiap kesimpulan, senantiasa akan dipertanyakan kembali dalam rangka memperoleh pemahaman yang tepat.
7.      Rencana pengujian keabsahan data
Untuk menguji kesahihan dan keandalan data dalam penelitian kualitatif (Moleong, 2008: 327-343) dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi, analisis kasus negatif, pengecekan anggota, uraian rinci, dan auditing.
Dalam penelitian ini, untuk menguji kesahihan dan keandalan data peneliti menggunakan cara:
a.       Ketekunan pengamatan
Menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
b.      Pemeriksaan sejawat dengan diskusi
Mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. Dalam hal ini peneliti mendiskusikan hasil penelitian dengan dosen pembimbing.
c.       Triangulasi
Merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dengan cara membandingkan data hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dengan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subyek penelitian.

H.    Garis Besar Sistematika Penulisan Skripsi
Sistematika skripsi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi semester satu memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali tahun akademik 2010/2011r:
1.      Bab I Pendahuluan terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, medote penelitian, definisi istilah, dan garis besar sistematika skripsi.
2.      Bab II Landasan teori yang terdiri dari: faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi mahasiswa/mahasiswi memilih kuliah di STIAB Smaratungga Boyolali, Pengambilan Keputusan Memilih Kuliah Di STIAB Smaratungga.
3.      Bab III Metode Penelitian
4.      Bab IV Terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan.
5.      Bab V Penutup, terdiri dari simpulan dan saran.

I.       Daftar Rujukan Sementara
…..2003. Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS). Jakarta: Sinar Grafika.
Al-Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: Pustaka Setia.
Bahar Djamari, Syaiful. 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Gramedia.
Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Bungin, Burhan. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Depdiknas. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. 13 Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mukti, Krishnanda Wijaya. 2006. Wacana Buddha Dhamma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan.
Mulyono, Santoso, Liman. 2008. Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha. Jakarta: Freepress Publisher.
Mustaqim dan Abdul Wahid. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Strauss, Anselm dan Juliet Corbin. 2003. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta.
Sukidin, Basrowi. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspetif Mikro. Surabaya: Insan Cendekia.
Suryosubroto, 2004. Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarmudji, Tarsis. 2001. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Agresivitas Remaja. Semarang: Universitas Negeri Semarang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar