Jumat, 15 Juni 2012

Tata cara dalam didalam Vihara Mahayana

Tata cara dalam didalam Vihara Mahayana Didalam tata cara peraturan keviharaan buddhis Mahayana, dikenal adanya pedoman yang disusun oleh maha guru Bai zhang (百丈禪師) didalam bukunya tentang peraturan vihara (百丈清規). Maka , bagi para pemula hendaknya mengetahui tata cara penghormatan buddhis mahayana: 1. Memasuki pintu utama (三門 san men ) a. Jika hendak memasuki pintu bagian kanan hendaknya melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu, sebaliknya jika kaki kiri juga harus demikian (kaki kiri yang masuk duluan) 2. Umat awam tidak diperkenankan masuk aula melalui pintu tengah, karena itu adalah pintu untuk para tamu anggota sangha dan pemimpin vihara. 3. Tempat namaskara (拜墊pai tien) a. Umat awam tidak diperkenankan bernamaskara dibagian tengah karena itu adalah tempat khusus namaskara bagi para tamu pemimpin vihara. 4. Hai ching : Hai qing (海青) Hai qing adalah salah satu pakaian dalam tata cara penghormatan buddhisme , sering dipakai terutama pada saat ritual pembacaan sutra oleh para anggota sangha divihara. Hai qing berasal dari dialek daerah wu zhong (吴中区方言) daerah su zhou bagian selatan (苏州市南部)yang berarti jubah besar , baju lengan besar. Hai qing dikenakan pada saat melakukan upacara penghormatan kepada Buddha, ataupun pembacaan sutra divihara. Dinamakan hai qing (海青) karena mempunyai makna dari masing-masing katanya, “hai 海” yang berarti samudra luas, tanpa batas memberikan kita sebuah ketentraman dan ketenangan saat mengenakannya; sedangkan “qing青” berarti pakaian tersebut mempunyai warna hijau kebiruan seperti laut, mempunyai sebuah arti dukungan pada kita sebagai sang pemakai agar semakin maju dalam melatih diri, tidak sama dengan orang biasa yang tidak memakainya karena semakin hari mampu untuk semakin berkembang dalam melatih diri. Selain warna hijau ada juga hai qing yang berwarna hitam yang sering digunakan oleh para sangha pemula , juga oleh umat biasa yang telah menerima sila tertentu menurut peraturan vihara masing-masing. Warna kuning biasanya dipakkai oleh pemimpin vihara ataupun pemimpin upacara buddhisme , sehingga sang pemakai tidak sama dengan orag biasa . namun , seiring dengan tradisi buddhis yang mampu beradaptasi dengan lingkungan adat dan istiadat , orang yang memakai , waktu pemakaian serta cirri yang lain kini banyak melewati perubahan , namun tetap saja tujuan dan makna dari mengenakan hai qing tetaplah sama yaitu sebagai bentuk penghormatan kepada triratna dan makhluk-makhluk suci dengan tata cara yang lebih sopan dan beradab. Hai qing juga sering dikenakan oleh para sesepuh kuno, juga para pembesar istana pada zaman kuno . meskipun warnanya tidak sama namun bentuk khusus yaitu lengan yang luas tetap menjadi sebuah makna bahwa hidup haruslah bebas. Bebas berarti mampu melepaskan semua derita hidup dan kemelekatan dunia menuju kekehidupan yang tenang dan tentram. Dengan demikian adanya hai qing juga memberikan kita sebuah pelatihan diri menjadi seorang umat Buddha yang dapat melatih diri. Menurut salah satu cerita yang berhubungan dengan hai qing , pada masa dinasti Liang , sang kaisar mempunyai seorang istri yang sangat berambisi membuat para anggota sangha melanggar sila. Maka pada suatu kesempatan dia membuat banyak man tou (makanan seperti bak pao) yang berisi daging babi untuk dipersembahkan kepada anggota sangha. Namun, sang guru besar dari perkumpulan sangha ini mengetahui niat jahat sang permaisuri. Maka demi menghindari hukuman jika menolak persembahan dari permaisuri juga agar tidak melanggar sila , beliau memerintahkan kepada semua bhikku muridnya untuk membuat lengan bajunya menjadi lebih longgar agar saat tiba saatnya bisa mengganti man tou yang berisi daging babi persembahan sang permaisuri tidak termakan , dengan demikian permaisuripun tidak murka atas penolakan halus dari para bhikku. Seorang pujangga pada masa dinasti Tang bernama li bai (唐朝诗人李白)pernah menulis sebait puisi : “melambai-lambai dengan anggun sang lengan besar Bagaikan burung terbang menuju kesamudra timur.” Maka demi menjaga keanggunan seseorang dalam memakai hai qing ada beberapa peraturan yang harus ditaati agar tidak memberikan kesan bahwa hai qing hanyalah pakaian biasa saja : 1. Tangan tetap diangkat dengan posisi lepas anjali 【放掌】, dan tidak sekalipun melambai-lambaikan lengan hai qing. 2. Pada saat menaiki tangga , bagian depan hai qing harus diangkat agar tidak terinjak oleh kaki sendiri. 3. Pada saat menuruni tangga, bagian belakang hai qing harus dianggkat agar tidak terinjak oleh orang lain. 4. Saat mendengarkan ceramah dhamma tidak diperbolehkan menjulurkan kaki dengan posisi bersila dengan hai qing. 5. Pada saat bersujud, bagian depan hai qing harus diangkat dengan tinggi yang sesuai agar tidak memberikan kesulitan saat bernamaskara. 6. Menghormati baju suci ini dengan tidak meletakkannya disembarang tempat. 5. Alat sembayang (法器): a. Lonceng : lonceng adalah bagian penting dalam tata cara kebaktian buddhis Mahayana. Tujuan utama adalah sebagai pertanda waktu istirahat malam dan bangun pagi agar para makhluk hidup tidak bermalas-malasan . namun ada juga yang digunakan sebagai pertanda waktu makan (齋鐘), disamping itu pada umumnya digunakan saat sedang kebaktian diaula dharmasala. b. Tambur : juga merupakan pertanda waktu yang berpasangan dengan lonceng. c. Gong (大磬) : suara gong dapat didengar oleh makhluk dialam sengsara , maka tidak diperkenankan untuk sarana bermain-main. Selain itu gong adalah pemimpin dalam kebaktian , jadi tanpa ada suara gong semua tidak boleh berjalan. d. Mu yi : Mu yv (baca : 木魚muk yi) Berdasarkan asal katanya 木mu berarti kayu, 魚yv (baca : yi) berarti ikan. Bentuknyapun sama dengan asal kata namanya, yaitu kayu yang berbentuk seperti ikan. Mu yv ini selalu digunakan didalam vihara (khususnya Mahayana) sebagai sarana dalam sembayang pembacaan sutra , maka disebut sebagai alat sembayang (法器) mengenai bentuknya semua orang mungkin tidak asing lagi, bulat tapi tidak bulat sekali, terdapat lubang dan selalu dianiaya (dipukuli) oleh pemukulnya (木槌)tetapi bukan lah sebuah kekerasan dalam persembayangan (hehe…just joke) mu yv dipasangkan dengan gong (大磬) yang dipegang oleh pemimpin upacara yang disebut wei no (維那wei na) dan orang yang bertanggung jawab menganiayanya (memukulnya) disebut sebagai yek cong (業眾 ye zhong) . Mu yv mempunyai peranan yang sangat penting dalam upacara pembacaan sutra dalam agama Buddha. Salah satu pukulan akibatnya bisa sampai pemimpin yang kewalahan. Jadi warning untuk muda-mudi yang dapat bagian mu yv “harap tidak ditiru adegan ini tanpa keahlian khusus.” Haha…..balik omongan tentang mu yv yang mempunyai bentuk seperti ikan mengingatkan kita bahwa ikan adalah seekor hewan yang sangat menderita karena sepanjang hari sepanjang waktu tidak pernah memejamkan mata bukan karena insomnia bukan juga karena dapat giliran jaga ronda. Melainkan sebuah pelajaran bagi kita “ hidup harus mempunyai sebuah semangat , tidak mengembangbiakkan kemalasan.” Melihat mata ikan kayu yang dipukuli sungguh sangat menderita namun apakah kita mampu belajar dari filosofinya yang tidak pernah lelah melatih diri. Meskipun dapat derita karena dipukuli, dianiaya, difitnah , dicela apakah kita bisa tetap mendendangkan nada sutra tanpa pernah lari dari masalah.? Kembali lihat ketenangan sang mu yv yang selalu tidak tergoyahkan oleh rintangan tersebut. Sebuah cerita kuno konon ada seorang maha bhiksu yang melatih diri dengan baik dan giat , pada akhirnya beliau mempunyai seorang murid yang malas dan pelatihan dirinya tidak bagus ,selain itu tidak hormat pada triratna termasuk gurunya sendiri. Pada masa kelahiran selanjutnya sang murid terlahir sebagai seekor ikan yang tumbuh sebatang pohon dipunggungnya. Sangat menderita karena terpontag panting oleh ombak lautan, menderita karena karma buruk masa lampaunya. Suatu hari sang guru melintas lautan tersebut dan kebetulan bertemu dengan makhluk misterius tersebut, setelah melihatnya ternyata dia adalah sang murid yang telah meninggal dan karena perbuatan buruknya akhirnya terlahir dengan bentuk yang demikian menderitanya. Sang ikan kemudian bertobat dihadapan guru , memohon guru melimpahkan jasa kebajikan agar dia dapat terlepas dari kelahiran yang menderita seperti itu. Hari berikutnya sang guru membuat upacara pelimpahan jasa kemudian melimpahkan jasa kebajikan tersebut atas nama muridnya . tidak lama sang ikanpun mati dan terlahir dialam yang lebih baik, kemudian kayu yang tumbuh diatas punggung sang ikan diukir dan dibuatlah sebuah karya seni mu yv . mengingatkan semua yang melihatnya agar giat ,melatih diri seperti ikan yang tidak pernah tertidur , menghormati sang triratna termasuk para guru dan orang tua kita. Dilain cerita sewaktu yang ariya xuan zhuang sedang melakukan perjalanannya beliau menginap dirumah seorang umat. Ternyata sang pemilik rumah sedang menderita kesusahan karena anak dari istri pertamanya telah mati karena ditenggelamkan kedalam lautan oleh sang istri keduanya. Kemudian karena pemilik rumah hendak melayani sang maha guru xuan zhang yang ingin menikmati segarnya ikan laut maka iapun akhirnya memerintahkan beberapa pekerjanya untuk pergi menangkap ikan. Alhasil mereka mendapatkan ikan yang begitu besar , setelah dibuka ternyata didalam perut ikan tersebut tersimpan anak sang pemilik rumah yang hendak dibunuh tadi. Dan demi membalas jasa ikan tersebut akhirnya maha guru menasehatinya agar membuat sebuah ikan yang terbuat dari ukiran kayu dan memajangnya dialtar Buddha. Sungguh sangat menarik sekali , karena memukul mu yv juga banyak tata cara yang tidak boleh keliru salah satunya pada permulaan harus mengetuk gatha : 若人欲了知三世一切佛。。。 (jika seseorang ingin mempelajari Buddha dari tiga masa hendaknya selalu memahami bahwa semua yang terjadi berasal dari pikiran ) semua berasal dari hati , jadi yang masih salah pukul mu yv ayo cepat latihan………. e. He ce (鉿子) dan tang ce (鐺子) : alat sembayang tambahan, he ce dipukul dengan arah turun dan naik, tinggi sedada ; tang ce dipukul sejajar dengan mulut kita. 6. Namaskara : a. Namaskara : i. Badan menunduk , letakkan tangan kanan dibagian tengah pai tien , kemudian tangan kiri dibagian kiri atas pai tien. Setelah itu tangan kanan yang berada ditengah pelan-pelan digeser kearah kanan atas . setelah sejajar, kepala perlahan turun , saat kepala sampai dialas pai tien , kemudian kedua tangan dibalik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar